Tampilkan postingan dengan label Al aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al aqidah. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juni 2012

Aqiqah dalam Syari’at Islam


Pengertian Aqiqah
’Aqiqah berasal dari kata ’aqqu (عَقُّ) yang mempunyai arti potong. Ibnul-Qayyim menukil perkataan Abu ’Ubaid bahwasannya Al-Ashmaa’iy dan lain-lain berkata :
أن أصلها الشعر الذي يكون على رأس الصبي حين يولد وإنما سميت الشاة التي تذبح عنه عقيقة لأنه يحلق عنه ذلك الشعر عند الذبح قال ولهذا قال أميطوا عنه الأذى يعني بذلك الشعر
”Pada asalnya makna ’aqiqah itu adalah rambut bawaan yang ada di kepala bayi ketika lahir. Hanya saja, istilah ini disebutkan untuk kambing yang disembelih ketika ’aqiqah karena rambut bayi dicukur ketika kambing tersebut disembelih. Oleh karena itu, disebutkan dalam hadits : ”Bersihkanlah dia dari kotoran”. Kotoran yang dimaksud adalah rambut bayi (yang dicukur ketika itu).[1]

Senin, 18 Juni 2012

Mewujudkan Mutaba’ah Dalam Ibadah


  Sebagai kelanjutan dari pembahasan ikhlas –yang merupakan syarat pertama diterimanya ibadah-, maka syarat yang kedua diterimanya amalan adalah memurnikan ittiba’ (pengikutan) kepada Rasulullah -shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam-.

Pentingnya Keikhlasan dalam Seluruh Amal Ibadah


Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…[Al-Bayyinah: 5]
Segala Puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala Rabb semesta alam Shalawat dam salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad Shalalllahu 'alaihi wa sallam Pembawa risalah yang haq ini sebagai rahmat bagi semesta alam kepada keluarganya para shahabatnya dan orang-orang yang setia mengikuti jejaknya hingga akhir zaman.

MENGAPA TAUHID DIBAGI TIGA


Penulis: Asy-Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad

Segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam, semoga kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa, shalawat serta salam semoga tercurah kepada imamnya para rasul, pilihan Rabb Semesta Alam, nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, kepada seluruh keluarga dan para sahabatnya.

Kamis, 14 Juni 2012

Do'a disaat Sedih dan Gelisah



اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي وَجِلَاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي

Allaahumma innii 'abduka wabnu 'abdika wabnu amatik, naashiyatii biyadik, maadlin fiyya hukmuk, 'adlun fiyya qadlaa'uk, as-aluka bikullismin huwa laka, sammaita bihi nafsaka, au anzaltahuu fii kitaabika, au 'allamtahu ahadan min khalqika, awis ta'tsarta bihii fii 'ilmil ghaibi 'indaka, an taj'alal Qur'aana rabii'a qalbii wanuura shadrii wajalaa'a huzni wa dzahaaba hammii

Rabu, 13 Juni 2012

Tidak Boleh Menanyakan : Di Mana Allah ?


    Pada artikel di blog tersebut dengan judul :Kitab al-Farq baina al-Firaq (Abu Manshur Al-baghdadi) : Allah Ada Tanpa Tempat
Pada bagian ini dinukilkan atsar yang " dianggap" bersumber dari Sahabat Ali bin Abi Tholib :
Sayyidina Ali -semoga Allah meridlainya- juga mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya yang menciptakan ayna (tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana

Ibnu Taymiyah dan Al-Bany Taubat Dari Aqidah Sesat


   Telah terdapat suatu tulisan dalam beberapa blog penentang dakwah Ahlussunnah dengan judul : Bukti Ibnu Taymiyah dan Al-Bany Taubat Dari Aqidah Sesat. Pada tulisan itu mereka menjelaskan bukti (menurut versi mereka) bahwa Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albaany telah bertaubat dalam aqidah tentang Asma’ Was Sifat menjadi seorang Asy-‘ari.

Metode Imam Ahmad bin Hambal dalam Membantah Ahlul Bid’ah


Ketika muncul fitnah “AL-Qur’an mahluk”, Imam ahmad sampai dipenjara karena mempertahankan akidah ahlussunnah wal jama’ah yaitu Al-Qur’an kalamullah, bukan mahluk. (Paham Al-Qur’an mahluk adalah paham jahmiyah yang diikuti mu’tazilah, mereka menafikan semua sifat Allah,

Pernyataan Majelis Ulama Indonesia terhadap Salaf/Salafi

Senin, 11 Juni 2012

Balasan nan Indah


Abu Ibrahim bercerita:
Suatu ketika, aku jalan-jalan di padang pasir dan tersesat tidak bisa pulang. Di sana kutemukan sebuah kemah lawas… kuperhatikan kemah tersebut, dan ternyata di dalamnya ada seorang tua yg duduk di atas tanah dengan sangat tenang…
Ternyata orang ini kedua tangannya buntung… matanya buta… dan sebatang kara tanpa sanak saudara. Kulihat bibirnya komat-kamit mengucapkan beberapa kalimat..
Aku mendekat untuk mendengar ucapannya, dan ternyata ia mengulang-ulang kalimat berikut:
الحَمْدُ لله الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً .. الحَمْدُ للهِ الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَق تَفْضِيْلاً ..
Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia… Segala puji bagi Allah yg melebihkanku di atas banyak manusia…
Aku heran mendengar ucapannya, lalu kuperhatikan keadaannya lebih jauh… ternyata sebagian besar panca inderanya tak berfungsi… kedua tangannya buntung… matanya buta… dan ia tidak memiliki apa-apa bagi dirinya…

Minggu, 10 Juni 2012

Perkataan Para Ulama Tentang Keberadaan Allah



Para Ulama telah sepakat mulai dari para sahabat, Imam Madzhab dan Imam Ahlussunnah wal jama’ah lain bahwa wajibnya menetapkan bahwa Allah diatas asry diatas semua mahluknya terpisah dari mahluknya dan Maha mengetahu semua mahluknya. Berikut ini nukilan beberapa Imam Ahlus Sunnah dalam masalah ini :

Dimanakah Allah ? – Ini Jawaban Al-Imaam Maalik bin Anas rahimahullah

Permasalahan ‘dimanakah Allah’ adalah permasalahan krusial yang di jaman dulu para imam kita dari kalangan salaf mudah menjawabnya dengan jawaban sederhana, namun menjadi susah oleh generasi setelahnya. Generasi khalaf, terutama yang berafiliasi dengan kelompok Asyaa’irah

Tawasul Syar’i vs Tawasul Syirik



Tawasul artinya mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya, beribadah kepada-Nya, mengikuti petunjuk rasul-Nya, dan mengamalkan seluruh amalan yang dicintai dan diridhoi-Nya. Atau dengan kata lain seseorang melakukan suatu ibadah dengan maksud mendapatkan keridhaan Allah dan surga-Nya. Namun, sebagian kaum muslimin salah dalam memahami tawasul. Mereka bertawasul dengan orang-orang shalih dan wali yang sudah mati. Inilah yang mereka anggap sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah. Padahal hal tersebut dapat menjerumuskan mereka ke lembah kesyirikan

Manhaj Salaf dalam Akidah



Manhaj generasi Salafus Shalih dalam masalah aqidah secara ringkas adalah sebagai berikut:
Membatasi sumber rujukan dalam masalah aqidah hanya pada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam serta memahaminya dengan pemahaman Salafus Shalih
  1. Berhujjah dengan hadits-hadits shahih dalam masalah aqidah, baik hadits-hadits tersebut mutawatir maupun ahad.
  2. Tunduk kepada wahyu serta tidak mempertentangkannya dengan akal. Juga tidak panjang lebar dalam membahas perkara gaib yang tidak dapat dijangkau oleh akal.
  3. Tidak menceburkan diri dalam ilmu kalam dan filsafat
  4. Menolak ta’wil yang batil
  5. Menggabungkan seluruh nash yang ada dalam membahas suatu permasalahan

Jumat, 08 Juni 2012

10 Hal yang membatalkan keislaman



Segala puji untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan hidayah kepada hamba-hamba-Nya dalam mentaati perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Shalawat beserta salam tercurahkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang mengikutinya dengan kebaikan sampai Hari pembalasan.